Langsung ke konten utama

Hidup dengan Penyakit Jantung Koroner (2): Kateterisasi/Angiografi Koroner




Berbekal dugaan adanya penyumbatan koroner di jantung saya (baca kisahnya di sini), saya dijadwalkan untuk melakukan angiografi koroner.  Ouh, apaan, tuh?


Pengertian

Angiografi adalah tindakan intervensi non bedah untuk melihat kelainan yang diduga terjadi di jantung. Ia menjadi gold standart untuk mendiagnosa PJK, dengan tingkat keakuratan bisa dibilang 100%. Jika angiografi dilakukan untuk melihat pembuluh darah arteri, maka disebut arteriografi.
Sebetulnya, tindakan ini termasuk dalam lingkup radiologi. Sebab, menggunakan teknik xray dan fluoroscopy. Gampangnya sih, me-rontgen isi jantung, hehehe. 

Di Mana?

Di kamar operasi, yaa? Tenang, santai aja. Bukan, kok. Kateterisasi dilakukan di lab kateterisasi (cath lab). Sebuah ruang super duingin dengan AC 15 PK (kata perawatnya), dilengkapi  ranjang mirip meja rontgen yang bisa digerakkan, monitor besar, dan peralatan lain. Memang, sih, suasananya mirip operation theatre. Tapi, bukan. Ini CATH LAB! *penting banget ini digarisbawahi, supaya pasien nggak ketakutan berlebih- tunjuk idung

Jadi?

Jadi, sebuah selang tipis-lentur-panjang, akan dimasukkan melalui akses di area paha atas dekat selangkangan, atau pergelangan tangan pasien. Semacam dicoblos jarum agak gede gitulah. Bukan disayat atau dilubangi, yah. ;)

Selang ini disebut kateter. Makanya, secara awam sering disebut kateterisasi jantung. Nah, kateter ini akan ‘didorong’ di dalam pembuluh darah besar sampai ke jantung. Lalu, dokter akan menginjeksikan cairan kontras ke jantung. Dan seerrrr … semua bagian pembuluh jantung akan terlihat jelas. Dokter pun bisa menganalisa apa yang terjadi di dalam sana. 

Bagian terbaiknya adalah: pasien hanya dibius lokal. Jadi, tetap sadar selama proses dan bisa mengikuti arahan dokter. 

Sounds horrible? Serem? Ih, iyaaa … Hehehe. Tenang, tenang … Nggak usah takut! Serius.  *gaya! Siapa yang kemaren nggak bisa tidur dan nangis gegara takut? :p

Amankah?

Sesuai perkembangan dunia kedokteran dan kecanggihan alat, insyaAllah prosedur ini aman. Dalam arti, dilakukan oleh dokter operator dan tim yang sudah berpengalaman. Kata sang perawat, mereka melakukan angiografi sebanyak sampai 15 jadwal setiap harinya. Terlatih, kan?

Tentu setiap tindakan ada resikonya. Tapi tim dokter pasti akan melakukan yang terbaik. Angiografi dilaporkan amat minim resiko mayor. 

Setelah Angiografi Selesai

Dokter/perawat akan mengeluarkan kateter (nggak sakit, kok). Lalu, tempat bekas coblosan tadi ditekan kuat agar darah tak keluar. Terus diperban. 

Kalau tempatnya di paha, area tadi akan ditindih bantal kecil berisi pasir yang berat. Pasien DILARANG menggerakkan/menekuk kaki tersebut selama minimal 6 jam. Jadi, harus bed rest di rumah sakit. Sekaligus diobservasi, apakah terjadi perdarahan atau bengkak.

Jika di tangan, pasien diberi semacam gelang untuk menekan bekas aksesnya, dan bisa langsung beraktivitas.

Pasien juga dianjurkan banyak minum, untuk membilas cairan kontras dari tubuh kita sesegera mungkin. In my case, susaaaah karena BAK kudu pakai p**pot. Hiks.

Beberapa pasien mungkin akan mengalami komplikasi, seperti memar, bengkak di area cath, dan pendarahan. Namun, asal mentaati perintah dokter, insyaAllah semuanya baik-baik saja.

(Komplikasi: Yah, karena salah pengertian, saya mengalami sedikit problem. Hari ketiga pasca cath, paha saya memar kehitaman, makin lebar tiap hari. Di area akses juga sedikit bengkak. Saya kesulitan bergerak dan kesakitan jongkok di toilet sekitar 2 mingguan. 


Ternyata, setelah cath, seharusnya pasien kalem dulu. Santai-santai. Boleh aktivitas, tapi nggak boleh ngoyo. Saya? Eeeungg ... Sampai rumah langsung ambil sapu dan tongkat pel. Jalan juga gagah perkasa. Atuh panteees langsung memar, hehehe.)


Prosedur Kateterisasi Saya

*Persiapan

Tanggal 20 Oktober setelah di-echo, saya mendaftar di bed manager BPJS di gedung Elang, instalasi khusus jantung dan pembuluh darah RSUP dr Kariadi. Jadwal kateterisasi (cath) saya 31 Oktober. Sekalian dikasih rujukan untuk cek darah.

Beberapa item yang saya ingat: gula darah sewaktu, HB, trombosit, kecepatan beku darah, dan fungsi ginjal. Alhamdulillah semua OK. Oya, biaya yang tertera di struk lab, 500 ribuan. 

*Hari H

Saya sudah harus PUASA makan sejak pukul 7 pagi. Minum air putih, masih boleh sedikit. Obat rutin juga tetap diminum.

Lalu, saya masuk kamar rawat. Ganti baju rumah sakit, dan dipasangi infus. Untuk jaga-jaga kalau perlu masukin obat nantinya. Saya juga menandatangani banyak formulir. Salah satunya persetujuan dilakukan tindakan.

Sekitar pukul setengah 1 siang, saya diantar ke cath lab. Pakai kursi roda. Dan dadah-dadah ngeri ke suami yang nggak boleh ikut masuk. Padahal, ternyata lama juga saya nunggu di luar ruang 3. Hiks. Teman saya hanya lafadz dzikir dan berusaha berpikir positif.

*Di Cath Lab

Saya masuk cath lab juga jalan kaki. Lalu berbaring di atas ranjang yang sudah dialasi semacam diaper lebar. Di atas saya, ada lampu operasi yang terang  tapi tak menyilaukan. Di atas kepala, ada receiver (untuk apa saya lupa). Di sisi kiri, ada 4 monitor besar.

Supaya nggak takut, saya kerahkan indera untuk merekam semua yang terjadi. Buat bahan nulis dan berbagi, hihihi.

Seorang perawat wanita yang lembut, ramah, tapi sangat efisen, membantu saya. Tak boleh mengenakan pakaian dalam, dan area sekitar akses kateter harus dibersihkan dari rambut halus. Setelah siap, perawat lain melampirkan *eh, apa yah istilahnya* beberapa kain penutup di sekujur tubuh. Kain berlubang diletakkan di paha kanan. Di situ nanti dokter akan melakukan akses.

Saya juga dihubungkan dengan alat EKG. Jadi, selama proses, irama jantung  dan tekanan darah terpantau. Suaranya, nat-nit-nat-nit berirama jadi back sound, hehe.

Saya boleh tetap pakai jilbab dan kacamata.

Oya, saya juga ditanya apakah ada alergi obat, terutama obat bius, antibiotik. Ini penting untuk menentukan jenis bius yang akan dipakai.

Ada perawat yang mengasisteni dokter. Dia mensterilkan area akses, menyiapkan 2 kateter puanjang, obat bius, kapas, dll. Ada teknisi. Ada beberapa residen atau dokter PPDS. Pokoknya ramai. Mereka ngobrol, bercanda, juga ngajak ngobrol saya. Kayaknya mereka sengaja deh, supaya nggak tegang.

Sebelum mulai, dokter dan perawat mengajak saya berdoa untuk kelancaran tindakan. Tapi, saya malah tambah nerves. Huaaa.

*Jadi, Here We Go!

Dr Susi bilang ini akan sedikit sakit awalnya. Yaitu waktu suntik anastesi. Saya diminta tarik nafas panjang. Dengan mengucap bismillaah, dokter mulai bekerja. Cuuss! Lumayaaan, huhuu. Sebentar kemudian, cuusss, selubung kateter dicobloskan. Auch! 

Dan setelah itu, Allaahu akbar! Saya hanya merasakan dr Susi menepuk-nepuk kaki saya, untuk menggerakkan kateter. Dan tiba-tiba saja di monitor, terlihat si ujung kateter sudah nongol di jantung! Tak ada rasa sakit sama sekali! Bahkan saat cairan kontras dimasukkan, saya tak merasakan sensasi apapun.  

Ternyata, pembuluh darah tak memiliki serabut saraf. That’s why I didn’t feel anything.

Takut saya sirna. Saya takjub, mengamati gambaran jantung saya yang berdenyut-denyut. Entah kenapa, mendadak saya yakin semua akan baik-baik saja. MasyaAllaah.

Dokter beberapa kali mengambil foto xray. Lalu, beliau berseru riang, “Yak, selesaai! Ibu, ada penyempitan yang tidak siginifikan di pembuluh cabang. Nggak perlu ring, ya. Pake obat aja. Besok pagi boleh pulang!”

Ya Allaah, saya speechless. Again
Saya memang menderita PJK. Tapi, proses cath yang lancar, hasil yang katanya tidak signifikan, nggak di-ring, nggak ditindak lainnya, adalah sesuatu yang harus saya syukuri. Alhamdulillaah …


Komentar

  1. Teteh, saya angiografi lewat tangan. Setelahnya ngga boleh salaman dulu selama beberapa jam. Tapi siku boleh digerakkan. Jari jemari yg harus istirahat sementara.

    Naluri penulis, berusaha mengingat semua untuk bahan tulisan, hehehe.

    Semangat sehat !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Teh.. Kalo di tangan lebih enakeun pasca cath,ceunah ya. Bisa jalan-jalan, ke toilet. Kalo di paha, aduuh nggak mau-mau lagi, deh. Hehehe. Semangaaat!

      Oh iya, atas saran Teh Dey waktu itu, saya alihkan rasa takut jadi energi buat mengamati, hihihi.

      Hapus
  2. Alhamdulillah... ikut deg-degan bacanya, Mba. Syukurlah sudah bisa diatasi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya, Mbak. Menjelang hari H, betapa saya galau setengah mati. Alhamdulillah semua baik-baik saja :)
      Terima kasih sudah mampir, yaa.

      Hapus
  3. Syukur alhamdulillah hasilnya baik baik saja mba. Sehat sehat terus ya mba sayang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya, Mbak Yuni, alhamdulillah. Saya belajar tegar dari Mbak. Mbak Yuni juga sukses yaa pengobatannya :*

      Hapus
  4. Mba lia bisa kah minta no wa nya mba.saya juga sedang mengalami hal sama mau di kateterisasi

    BalasHapus
  5. Silakan, Mbak Tati. Hub saya di 0857 4262 9398

    BalasHapus
  6. Silakan, Mbak Tati. Hub saya di 0857 4262 9398

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemeriksaan Jantung Koroner Menggunakan BPJS

Oktober 2016 lalu, saya menjalani beberapa prosedur pemeriksaan penyakit jantung. Mulai dari masuk UGD, sampai proses kateterisasi jantung (angiografi koroner). Pengalaman saya bisa dibaca di sini dan di sini. Saya terdaftar sebagai peserta BPJS Non PBI, ikut suami saya yang PNS. Kelas rawat kelas I. Sebagian besar prosedur tersebut di-cover oleh BPJS.
Memancing Rujukan
Mengapa hanya sebagian? Karena pada awal sakit, permintaan rujukan saya sempat ditolak dokter keluarga. Alasannya, dokkel melihat kondisi umum saya baik, tak masuk kriteria sakit serius atau gawat. Padahal saat itu, saya merasa sesak di dada dan kesemutan di semua bagian kepala. Sambil minta maaf, dokkel menyarankan saya untuk periksa mandiri dulu. Jika nanti hasilnya menjurus ke sesuatu, baru dia bisa memberikan rujukan ke RS. 
Akhirnya, saya periksa mandiri ke dokter spesialis penyakit dalam di RSUD. Dokter tersebut, alhamdulillah, merespon serius keluhan saya. Saya diminta cek darah (gula darah sewaktu, asam urat, da…